Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan di Lereng Merapi: Menembus Zona Bahaya demi Seikat Rumput

Rumah Perempuan - Guratan keriput di wajah Rejo Diyono menggambarkan perempuan asal Nglangkrah, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini tak lagi berusia muda.


Ya, usia nenek Rejo kini telah menginjak 75 tahun. Tapi, semangatnya bisa jadi melebihi anak-anak muda usia produktif jaman sekarang. 

Bagaimana tidak? Meski di usianya yang sudah senja, hampir setiap hari Nenek tiga cucu ini berjalan kaki naik turun gunung mencari rumput untuk pakan ternaknya. Padahal lokasinya, berjarak lebih dari 1 km dari rumahnya. 

"Setiap hari, saya mencari pakan untuk anak kambing itu sehari dua kali," Rejo mengungkapkan dalam bahasa Jawa.

Lokasi yang hampir tiap hari dia datangi itu juga termasuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi. Artinya, kawasan yang paling dekat dengan puncak gunung yang kini sedang ditetapkan statusnya menjadi Siaga. Jaraknya sekitar 5 km dari puncak gunung api yang terletak di perbatasan DIY-Jawa Tengah ini.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY telah merekomendasikan agar KRB di radius maksimal 5 km dari puncak harus dikosongkan selama Merapi masih berstatus siaga. Itu lantaran kawasan tersebut sangat rawan terkena lontaran material vulkanik dan awan panas ketika Merapi meletus, sebagaimana yang terjadi pada 2010 silam.

Meski sadar hidup di dekat Zona bahaya Merapi, namun nenek bertubuh ramping ini memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri yang berjarak sekitar 6 km dari puncak Merapi, daripada harus tinggal di Hunian Tetap (Huntap) yang telah dibangun pemerintah untuk merelokasi warga KRB III, pasca erupsi Merapi 2010 silam.

"Di sana saya tidak bisa bekerja. Kalau yang pegawai, setiap bulan bisa mendapatkan penghasilan. Kalau di sana (huntap), saya tidak bisa bercocok tanam. Tapi kalau di sini, bisa," jelas Nenek Rejo.

Tak hanya Nenek Rejo, ada Ibu Tumiyem yang usianya juga sudah paruh baya, dan memilih tinggal di rumahnya yang berdekatan dengan rumah Mbah Rejo.

Sebelum erupsi 2010, Tumiyem mengaku sering mencari rumput mendekati puncak Merapi, kira-kira di radius 3 km saja. Tapi pasca erupsi besar yang meluluhlantakkan dusunnya, kini ia lebih memilih untuk membuka warung kecil-kecilan di rumahnya yang menjadi area parkir umum wisata Jeep Merapi.

Pasca erupsi 2010, Tumiyem sempat mengungsi beberapa bulan hingga tinggal bersama sanak keluarganya di luar Jawa sebelum akhirnya memutuskan membangun kembali rumahnya di lereng Merapi, bersebelahan dengan bekas rumah lamanya yang tinggal fondasinya karena hancur tertimbun material vulkanik Merapi.

Sama halnya dengan mbah Rejo, Ibu Tumiyem juga enggan tinggal di Huntap lantaran hampir tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan di sana untuk menghasilkan income. Terlebih, keluarganya juga memelihara sapi yang butuh makan rumput.

Kini di saat Merapi sedang menunjukkan peningkatan aktivitas, maka mereka hanya berharap dan selalu berdoa agar diberi perlindungan oleh Allah SWT dan dijauhkan dari bencana besar seperti 2010 silam. (TH)

Posting Komentar untuk "Perempuan di Lereng Merapi: Menembus Zona Bahaya demi Seikat Rumput"