Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Resiliensi Perempuan di Era Disrupsi

Rumah Perempuan - Dulu, kebanyakan orang berpikir tidak mungkin bisa melakukan aktivitas tanpa mobilitas. Misalnya, beberbelanja tanpa beranjak dari atas tempat tidur, lalu barang bisa datang sendiri, atau mendapatkan informasi tanpa berlangganan koran maupun membaca buku. Bahkan tidak terlintas di pikiran masyarakat awam bahwa akan ada masa di mana orang dengan begitu gampang menjalin komunikasi dan hubungan "face to face" dengan orang lain di belahan dunia mana pun. Tidak terbesit juga di benak, jika ada saat di mana anak-anak yang masih bau kencur atau malah balita sudah bisa mengakses informasi apapun tanpa pengawasan, hanya dari sebuah benda kecil yang bisa digenggam tangan. Apalagi kalau bukan Hand Phone (HP) atau telepon genggam

Dan masa yang dulu dianggap orang mustahil itu, kini menjadi hal yang nyata terjadi dan mungkin dialami dalam keseharian. Terlebih selama masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), di mana orang-orang dipaksa untuk melakukan segala hal dari dalam rumah. Mulai dari bekerja, berbelanja, hingga bersekolah. Hal yang sama sekali tak terpikirkan ketika anak-anak sekolah dari rumah hingga berbulan-bulan, tanpa bertatap muka dengan guru-guru, dan teman-teman sekolah mereka.

Ya, masyarakat dunia termasuk Indonesia sedang berada di era disrupsi, di mana hampir semua aktivitas dunia nyata dialihkan ke dunia maya. Salah satu alasannya, demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. 

Bagi perempuan, perubahan perilaku di era disrupsi seperti sekarang ini membawa dampak yang luar biasa besar. Mengapa? Karena perempuan dalam posisi dia sebagai anak dari orang tua, istri dari suami, dan ibu bagi anak-anaknya dituntut multi tasking. Istilah Jawanya harus bisa "mrantasi" (diandalkan) dalam banyak posisi tersebut.

Dalam keluarga, dia sebagai istri harus tetap bisa melayani suaminya, sekaligus menjadi guru bagi anak-anaknya yang harus sekolah secara virtual. Belum lagi pekerjaan domestik yang juga harus ia selesaikan setiap harinya.

Persoalan lainnya, derasnya arus informasi yang mengalir dari gawai yang dipegang oleh kaum perempuan dan anak-anak mereka juga seringkali menambah tekanan yang dihadapi para perempuan, karena harus bisa memilah dan memilih, sekaligus menjadi pengawas aktivitas anak-anak mereka di dunia maya.

Kondisi-kondisi seperti ini, terkadang membuat perempuan sebagai manusia dan mahluk sosial merasa terbebani hingga tak jarang berujung pada stres, depresi, dan gangguan psikologis lainnya.

Dunia maya yang disebut-sebut begitu luas karena bisa menembus batas teritorial wilayah di berbagai belahan dunia, seketika bisa terasa sangat sempit, kosong, dan hampa bagi perempuan karena beban yang dipikulnya tak cukup ia lepaskan melalui ruang virtual.

Dalam situasi berat, perempuan butuh support system dari orang-orang di sekitarnya yang hadir secara fisik, bisa disentuh, dan bisa memberikan rasa aman sekaligus perhatian untuk melepaskan bebannya sehingga terwujud apa yang disebut sebagai resiliensi (ketangguhan) perempuan di tengah era disrupsi. Bahwa dia tidak benar-benar sendiri, dan mampu bangkit dari keterpurukannya di tengah berbagai tekanan yang harus ia hadapi, baik sebagai single fighter, single parent, istri, maupun ibu bagi anak-anak mereka.

Menurut  Reivich  dan  Shatte  (2002, h.1) yang dituangkan dalam bukunya “The Resiliency Factor” menjelaskan resiliensi adalah  kemampuan  untuk  mengatasi  dan  beradaptasi  terhadap  kejadian  yang  berat atau  masalah  yang  terjadi  dalam  kehidupan.  Bertahan  dalam  keadaan  tertekan,  dan bahkan berhadapan dengan kesengsaraan (adversity) atau trauma yang dialami dalam kehidupannya.

Resiliensi merupakan sebuah proses, tidak didapat secara instan juga bukan hasil dari keturunan yang diwariskan orang tua, resiliensi merupakan perkembangan mental yang sebenarnya dapat ditingkatkan. Seseorang yang memiliki resiliensi yang baik dapat membantu dalam menghadapi masalah hidupnya. Dalam hal ini perempuan yang resilien bisa menunjukan ketangguhan dalam menghadapi segala masalah . mereka yang resilien bisa bangkit kembali (bounce back) dari segala keterpurukan dan penderitaan (adversity), karena perempuan yang resilien bukan berarti tidak pernah menderita dan terpuruk, akan tetapi dia sanggup bangkit dari segala keterpurukan dan penderitaannya. Lalu apa saja yang bisa dilakukan para perempuan untuk meningkatkan resiliensinya. 

Sumber: xxx

Membahas resilien, hal itu tidak luput dari Karen Reivich bersama Andrew Shatte dalam bukunya yang berjudul The Resilience Factor, memaparkan tujuh komponen dari resiliensi, komponen-komponen tersebut adalah pengaturan emosi, kontrol terhadap impuls, optimisme, kemampuan menganalisis masalah, empati, efikasi diri, dan pencapaian. Berikut pembahasan 7 komponen yang dimiliki pribadi yang resilien, kira-kira kita sudah memenuhi kriteria resilien atau belum, nomor 5 wajib dimiliki pribadi yang resilien.

1. Regulasi emosi, adalah kemampuan untuk tetap tenang walaupun dalam kondisi yang penuh tekanan. Jadi seseorang yang resilien memiliki kemampuan meregulasi emosinya. Mampu meregulasi emosi bukan berarti harus menahan emosi, akan tetapi mampu mengendalikan emosi, dan menyalurkan serta mengekspresikan baik itu emosi positif maupun negatif, ke hal yang lebih tepat misalnya ketika merasa sedih, marah, kesal, kecewa, cemas,  bahkan bahagia, hendaknya tidak terlalu berlebihan, ketika anak tak kunjung paham akan penjelasan yang telah kita berikan, kita bisa “break” sebentar bermain atau bersenda gurau, bermain tebak-tebakan dsb dengan anak, hal ini dimaksudkan agar kita mampu mencari solusi dalam setiap masalah dengan mudah.

2. Pengendalian impuls, merupakan kemampuan mengontrol diri. Pribadi yang resilien biasanya mampu mengendalikan impuls agar tidak mudah mengalami perubahan emosi dengan cepat. Karena perubahan emosi yang cepat nantinya menjadikan kita sering kesulitan dalam mengendalikan emosi dan pikiran. Hal itu menyebabkan kita jadi kurang sabar, agresif mudah marah dsb, hal ini membuat lingkungan serta anak merasa tidak nyaman. 

3. Optimisme, seseorang yang resilien adalah pribadi yang optimis. Orang yang optimis biasanya memiliki pikiran yang positif, selain itu mereka percaya akan usaha yang mereka lakukan akan  membuahkan hasil. Sehingga mereka tidak mudah menyerah, orang yang optimis selain ciri dari seseorang yang resilien juga membuat nyaman oarang di lingkungan sekitar.

4. Empati, mampu mengiterpretasikan bahasa non verbal seperti bahasa tubuh,intonasi dan nada suara, ekspresi wajah dsb, sehingga dengan begitu pribadi yang resilien mampu memenuhi kebutuhan emosi orang lain sehingga lebih peka. Misalnya ketika pasangan lelah dan hanya membalas chat sekenanya, pribadi yang resilien tidak akan mudah tersinggung, atau malah curiga, mereka malah akan berempati dan memberikan ruang pada pasangan agar bisa beristirahat.

5. Analisis penyebab masalah, kemampuan seseorang dalam mengidentifikasikan masalah, dengan begitu mereka mampu menyelesaikan masalah serta peka terhadap msalah orang lain, sehingga mereka bisa melakukan tindakan preventif atau pencegahan. 

6. Efikasi diri, seseorang yang resilien tidak akan mudah menyerah, mereka yakin pada diri sendiri atas kemampuannya untuk menghadapi dan memecahkan masalah. Kegagalan demi kegagalan tidak akan membuatnya jera, mereka akan bangkit, berdiri dan melangkah lagi walau tertatih-tatih. 

7. Peningkatan aspek positif, resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Seseorang yang meningkatkan aspek positif dalam hidup, mampu melakukan dua aspek ini dengan baik, yaitu: (1) mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, (2) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan. Seseorang yang selalu meningkatkan aspek positifnya akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan hidup, serta berperan dalam meningkatkan kemampuan interpersonal dan pengendalian emosi.

Dengan menguasai aspek tersebut diharapkan kita bisa menjadi pribadi yang resilien sehingga kita sanggup menghadapi semua 

Posting Komentar untuk "Resiliensi Perempuan di Era Disrupsi"